Technology Jobs

3/All India Jobs/post-list
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Makalah Sistem Ekonomi (Masalah dasar dan Konsep masalah ekonomi)


Tugas Makalah 1 Sistem Ekonomi (Masalah dasar dan Konsep masalah ekonomi)



SISTEM EKONOMI SYA’RIAH


DOSEN : Ahmad Syaiful, S.Kom.
  Disusun Oleh : DIAN PRIYANTO ( 12164039 )
Program Studi : S1 / Jurusan : TI

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER MEDIA INFORMASI CENDEKIA



DAFTAR ISI

DAFTAR ISI     ........................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR    ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN          
A.     Latar Belakang                       ............................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah      ............................................................................................. 1
C.     Tujuan Penulisan        ............................................................................................. 1
D.     Pengumpulan Data     ............................................................................................. 2
E.      Sistematika Penulisan ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
1.       Konsep Dasar Ekonomi           ................................................................................ 3
1.1.  Pengertian Ekonomi     ............................................................................................. 3
1.2.  Pembagian Ilmu Ekonomi        ................................................................................ 4
1.3.  Prinsip, Motif dan Tindakan Ekonomi  ................................................................... 5
2.       Permasalahan Ekonomi           ................................................................................ 7
2.1.  Masalah Kelangkaan    ............................................................................................. 7
2.2.  Kebutuhan dan Jenis-Jenis Kebutuhan            ..................................................... 7
2.3.  Barang dan Kengunaan Barang Serta Jenis-Jenis Barang .................................. 8
BAB III PENUTUP       .......................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 11




KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat  Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan hidayahnya semata, sehingga penulis bisa menyeselesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang di tetapkan sebelumnya.
            Adapun menjadi topik pembahasan dalam makalah ini yaitu mencangkup tentang “Konsep Dasar dan Permasalahan Ekonomi” yang bertujuan untuk melengkapi tugas serta nilai
            Kami menyadari sebagaimana manusia biasa tak luput dari kesalahan, dengan kemampuan yang masih terbatas terdapat banyak kesalahan huruf, kata, kalimat  dari pada itu penulis sangat berharap masukan dan  kritikan  dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari makalah ini.
            Semoga upaya kecil dan tidak seberapa ini dapat bermanfaat, tak lupa pula penulis mengucapakan terima kasih atas pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini.




                                                                                                Cikarang,   Oktober 2014
                                                                                                Penyusun


                                                                                                Dian Priyanto







BAB 1
P E N D A H U L U A N

A.     Latar Belakang
            Permasalahan  ekonomi manusia sebenarnya telah tumbuh berkembang bersamaan dengan umur manusia di planet bumi ini, demikian juga upaya untuk memecahkannya, tidak hanya untuk mempertemukan kedua tujuan itu, tetapi membuat kehidupan lebih nyaman dan mendorong kekuatan mereka terwujud berdasarkan visi mereka. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas apa itu “Konsep Dasar Ekonomi dan Permasalahan Ekonomi”. Pengertian serta permasalahan-permasalahan ini tetap menjadi isu utama selama perjuangan manusia di sepanjang kehidupannya, baik yang terekam oleh sejarah maupun tidak.

B.     Rumusan Masalah
            Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut
1.       Apa pengertian ekonomi      
2.       Menyebutkan serta menjelaskan beberapa ilmu ekonomi       
3.       Apa saja prinsip, motif dan tindakan ekonomi
4.       Apa saja yang menjadi permasalahan ekonomi         
5.       Apa masalah kelangkaan    
6.       Menyebutkan kebutuhan dan jenis-jenis kebutuhan
7.       Apa saja barang dan kengunaan barang serta jenis-jenis barang

C.    Tujuan Penulisan
            Tujuan penulis membuat makalah yang berjudul ”Konsep Dasar dan Permasalahan Ekonomi” adalah sebagai berikut:
1. Mengetahu Definisi pengertian ekonomi
2. Mengetahui dan menjelaskan bebrapa ilmu ekonomi
3. Mengetahui prinsip, motif dan tindakan ekonomi
4. Mengetahui permasalahan ekonomi
5. Mengetahui apa masalah kelangkaan
6. Mengetahui kebutuhan dan jenis-jenis kebutuhan
7. Mengetahui barang dan kengunaan barang serta jenis-jenis barang 

D.     Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data serta sejumlah informasi aktual yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yang pertama browsing di Internet, kedua dengan membaca media cetak dan dengan pengetahuan yang penulis miliki.

E.      Sistematika Penulisan
            Makalah ”Konsep Dasar Ekonomi dan Permasalahan Ekonomi” ini disusun dengan urutan
            sebagai berikut :
            Bab I Pendahuluan
            Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan.
            Bab II Pembahasan
            Pada bab ini ditemukan pembahasan yang terdiri dari definisi pengertian ilmuekonomi, pembagian  ilmu ekonomi, prinsip, motif dan tindakan ekonom, permasalahan ekonomi, masalah kelangkaan, kebutuhan dan jenis-jenis kebutuhan serta barang dan kengunaan barang serta jenis-jenis barang
            Bab III Penutup
            Bab terakhir ini memuat kesimpulan dari topik yg dibahas.

            Daftar Pustaka
            Pada bagian ini berisi referensi-referensi dari berbagai media yang penulis gunakan untuk pembuatan makalah ini


BAB II
P E M B A H A S A N

1.    KONSEP DASAR EKONOMI
1.1. Pengertian Ekonomi 
     Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, “Oikos” yaitu “Rumah tangga” dan “Nomos” yang berarti “aturan”. Jadi ekonomi berarti aturan rumah tangga. Rumah tangga yang dimaksud adalah rumah tangga dalam arti luas, yaitu setiap bentuk kerjasama manusia untuk mencapai kemakmuran atas dasar prinsip ekonomi. Misalnya: rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen, dan rumah tangga pemerintah. Ketiga rumah tangga ini disebut Pelaku Ekonomi.    Karena ekonomi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai kemakmuran, maka ilmu ekonomi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dimaksudkan sebagai kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan sebaik-baiknya melalui alat pemuas kebutuhan yang ada. Dengan kata lain seorang yang makmur adalah seorang yang relatif seluruh kebutuhannya telah terpenuhi (kebutuhan = alat pemuas kebutuhan).

     Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro.
1.       Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional.

Ilmu ekonomi makro mempelajari masalah-masalah ekonomi utama sebagai berikut :
·               
3
Sejauh mana berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment. Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat pengangguran/belum berada pada posisi kesempatan kerja penuh.
·                Sejauh mana perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter. Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi inflasi. Sebaliknya terjadi deflasi.
·                Sejauh mana perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dalam distribusi pendapatan terdapattrade off maksudnya bila yang satu membaik yang lainnya cenderung memburuk.
2.       Ekonomi Mikro
Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga.
Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus.

1.2. Pembagian Ilmu Ekonomi 
     Semua ilmu pada dasarnya berasal dari suatu rumpun, yaitu filsafat atau philosopia. Sebagai cabang dari ilmu sosial, ilmu ekonomi dibedakan menjadi :
Ekonomi Lukisan ialah ilmu ekonomi yang hanya menggambarkan satu masalah ekonomisuatu Negara secara khusus tanpa mengadakan pembahasan.
1.       Ekonomi Teori adalah ilmu yang bertugas menerangkan hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi dan kemudian merumuskan hubungan-hubungan itu dalam suatu hukum ekonomi.
2.       Ekonomi Terapan adalah ilmu ekonomi yang dipraktekkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: ilmu ekonomi perusahaan, ekonomi koperasi, ekonomi moneter, dll.
3.         Sejarah Ekonomi adalah ilmu ekonomi yang mempelajari perkembangan teori-teori ekonomi dari masa ke masa sehingga dapat mengetahui perkembangan teori-teori ekonomi sampai dengan ekonomi modern dewasa ini. 


1.3. Prinsip, Motif dan Tindakan Ekonomi 
1. Prinsip Ekonomi
            Prinsip ekonomi adalah dasar berpikir yang digunakan manusia dalam melakukan kegiatan ekonomi
            Dasar berpikir dalam prinsip ekonomi adalah:
            * Dengan pengorbanan tertentu diperoleh kepuasan sebesar-besarnya  atau
            * Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya demi mendapatkan kepuasan tertentu
            Misalnya Anda mempunyai perusahaan yang memproduksi sepatu. Sebelum sepatu dibuat, Anda menghitung berapa kira-kira biaya untuk memproduksi sepatu dan berapa harga jual sepatu itu. Jika Anda menerapkan prinsip ekonomi, maka Andaberusaha untuk menekan biaya pembuatan sepatu sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba atau keuntungan tertentu, sesuai harapan ayah. 
2. Tindakan Ekonomi
Tndakan ekonomi Adalah segala tindakan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya selalu berpegang pada prinsip ekonomi senantiasa hidup hemat dan menyusun skala prioritas.
Tindakan ekonomi terdiri atas tiga kegiatan pokok ekonomi, yaitu
(1) kegiatan produksi,
(2) kegiatan konsumsi, dan
(3) kegiatan distribusi. 
3. Motif Ekonomi
      Motif berasal dari bahasa Inggris, motive, yang berarti dorongan. Secara sederhana, dorongan atau alasan yang membuat orang mau melakukan tindakan ekonomi disebut motif ekonomi. Lebih jelasnya, yang dimaksud motif ekonomi adalah suatu kekuatan yang mendorong orang untuk melakukan tindakan / kegiatan ekonomi.
       Ada dua alasan mengapa orang melakukan kegiatan ekonomi, yaitu alasan ekonomi (motif ekonomi) dan alasan di luar ekonomi (motif nonekonomi). 
      Secara garis besar, motif ekonomi yang mendorong seseorang mau melakukan tindakan ekonomi karena seseorang itu ingin:
      1. mendapat laba / keuntungan.
      2. mendapat kepuasan atau kenikmatan sebesar-besarnya.
      Sedangkan motif nonekonomi yang mendorong seseorang melakukan tindakan ekonomi karena seseorang itu ingin :
5

      1. membantu orang lain.
      2. mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari masyarakat.
      3. mendapatkan kedudukan atau jabatan di masyarakat.
     
      Adalah keinginan yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan ekonomi. Tujuan akhir dari motif ekonomi adalah tercapainya kemakmuran. Berikut ini adalah motif-motif ekonomi :
a. keinginan untuk menjadi makmur
b. keinginan untuk memperoleh penghargaan dari masyarakat
c. keinginan untuk memperoleh kekuasaan dan kepuasan
d. keinginan untuk melakukan kegiatan sosial
4. Tindakan/Hukum Ekonomi
Adalah keseluruhan rumusan yang berlaku umum yang menggambarkan pertalian peristiwa ekonomi yang satu dengan peristiwa ekonomi lainnya. Hukum ekonomi digolongkan menjadi:
a.   Kausal (sebab-akibat) adalah peristiwa ekonomi yang satu mengakibatkan peristiwa ekonomi yang lainnya, tetapi tidak bisa sebaliknya. Contoh: kenaikan gaji pegawai, biasanya menyebabkan kenaikan harga. Dan tidak selalu ada kenaikan harga menyebabkan kenaikan gaji.
b.   Fungsional, contoh: hukum permintaan
      Sifat keberlakuan hukum ekonomi:
      a. Relatif, artinya tidak mutlak seperti ilmu pasti
      b. Tendens, artinya bersifat kecenderungan
      c. Berlaku syarat cateris paribus (jika keadaan lain tetap, misalnya: selera, pendapatan, dan psikologi) tetap tidak berubah.


2. MASALAH EKONOMI
2.1.        Masalah Kelangkaan
          Inti masalah ekonomi adalah terletak pada masalah kelangkaan, yaitu adanya “kebutuhanmenusia tidak terbatas sedangkan alat pemuasnya sangat terbatas”, yang seringkali disebut dengan problem of choise (masalah dalam hal pemilihan).
          Inti permasalahan ekonomi dirumuskan: kebutuhan > alat pemuas kebutuhan. Jika intimasalah ini sudah terpecahkan maka akan tercapai kemakmuran. Kondisi yang makmuryaitu apabila: kebutuhan = alat pemuas kebutuhan.
          Sedangkan yang menjadi masalah pokok ekonomi adalah terletak pada:
          1. What : barang apa yang dibutuhkan masyarakat.
          2. How : bagaimana cara menciptakan barang yang dibutuhkan tersebut.
          3. For whom : untuk siapa barang tersebut di produksi.
2.2.    Kebutuhan dan Jenis-jenis Kebutuhan
Kebutuhan adalah keinginan terhadap suatu benda atau jasa yang pemuasannya dapatdilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani. Macam-macam dan jumlah kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Faktor alam
2. Peradaban dan kebudayaan
3. Lingkungan masyarakat
4. Meniru orang lain.
Klasifikasi dan jenis-jenis kebutuhan dapat digolongkan sebagai berikut:
Menurut
Jenis Kebutuhan
Contoh
1. Intensitasnya
1) Primer
2) Sekunder
3) Tertier
- sandang, pangan, papan
- perabotan rumah tangga
- mobil BMW, parabola, piano
2. Waktunya
1) Sekarang
2) Yang akan datang
- obat bagi yang sakit
- air bagi yang haus
- menabung
3. Sifatnya
1) Jasmani
2) Rohani
- makanan, rumah
- agama, rekreasi, pendidikan
4. Subyeknya
1) Individu
2) Kelompok
- cangkul bagi petani
- dasi bagi manajer
- pasar, jalan raya




2.3.     Barang dan Kegunaan Barang serta Jenis-jenis Barang 
Barang adalah segala esuatu untuk pemuas kebutuhan manusia. Jenis-jenis barang sebagai berikut:
Menurut
Jenis Barang
Contoh
Wujudnya
1) Barang konkrit/nyata
2) Barang abstrak
- meja, kursi, makanan, dll
- jasa guru, dokter, sopir, dll
Cara memperolehnya
1) Benda ekonomi (adanya terbatas dan perlu pengorbanan untuk memperolehnya)
2) Benda bebas (jumlahnya tak terbatas dan untuk memperolehnya tidak perlu pengorbanan)
- mobil, rumah, buku, dll
- air laut, udara, air hujan, dll
Kegunaannya
1) Barang konsumsi (yang langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia
2) Barang produksi (tidak langsung memenuhi kebutuhan manusia, melainkan untuk menghasilkan barang jadi)
- makanan, pakaian
- mesin, barang modal, bahan
baku, dll
Hubungannya dengan benda lain
1) Barang subtitusi (saling mengganti)
2) Barang komplementer (salaing melengkapi)
- nasi dengan roti
- rotan dengan akar
- mobil dengan

Sedangkan jenis-jenis kegunaan benda (utilitas) untuk memenuhi kebutuhan manusia terdiri dari:
Element utility adalah benda berguna karena mempunyai zat asli yang dibutuhkan. Contoh: telur, umbi-umbian, dll.
Time utility adalah kegunaan benda karena waktu, contoh: jas hujan.
                      
8

Place utility adalah kegunaan benda karena tempat, contoh: pasir di sungai dengan pasir di kota.
Form utility adalah kegunaan benda karena perubahan bentujnya, contoh: kulit ular jadi ikat pinggang, kayu jadi kursi.
 Ournership adalah kegunaan benda karena kepemilikan yang berbeda. Contoh: baju ketika di toko tidak bisa dipakai ketika sudah dibeli bisa dipakai.



BAB III
P E N U T U P
Dengan tersusunnya makalah ini berarti telah terpenuhi sebagai tugas penulis dalam rangka menambah nilai tugas kuliah khususnya mata kuliah “Pengantar Ilmu Ekonomi”. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih belum sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan. Namun berkat bimbingan dan pengarahan Bapak/Ibu dosen serta beberapa pihak maka penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Pada kesempatan ini tak lupa penyusun mohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam penyusunan makalah ini masih belum sempurna. 

Dan akhirnya penyusunan berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca danMahasiswa khususnya.


DAFTAR PUSTAKA


Kebutuhan dan keinginan KONSUMEN DALAM EKONOMI ISLAM




SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER MEDIA INFORMASI CENDEKIA







DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR................................................................................ i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN (Kebutuhan Versus Keinginan)....................... 2

A. Kebutuhan........................................................................................ 2

B. Keinginan.......................................................................................... 6

C. Mengenal Manusia........................................................................... 9

D. Fitrah Manusia Terhadap Agama................................................. 10

E. Iman dan Perilaku........................................................................... 11

BAB III PENUTUP..................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 13









BAB I

PENDAHULUAN

Terjadinya transaksi hingga melakukan pembayaran dengan uang terhadap barang dan jasa dikarenakan berbagai konsumen, kalangan bisnis, dan instansi pemerintah memiliki berbagai macam kebutuhan dan keinginan.

Dalam sebuah perekonomian pasar, jika ada permintaan akan sesuatu, maka pasti akan ada orang yang bersedia menyediakannya atau menawarkannya. Penawaran merupakan pasangan permintaan. Sedangkan permintaan berhubungan dengan keinginan dan kebutuhan seseorang terhadap sesuatu.

Dalam sebuah perekonomian pasar, segalanya memiliki harga, dan pembeli yang memiliki permintaan (kebutuhan dan keinginan) selalu menginginkan harga yang lebih rendah. Sementara penjual menginginkan harga yang lebih tinggi.[1]

Pada bab selanjutnya, pemakalah akan membahas tentang Kebutuhan Versus Keinginan, dan mengenai: Mengenal manusia, Kefitrahan Alam dan Manusia, Islam dan Kefitrahan, Iman dan Prilaku.


BAB II

PEMBAHASAN

(Kebutuhan Versus Keinginan)

A. Kebutuhan

Kebutuhan yaitu keinginan mutlak yang diperlukan manusia bagi kehidupan dan tanpanya manusia tidak dapat hidup, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.

Hingga saat ini, umumnya orang berbeda pendapat bahwa kebutuhan pokok manusia terdiri dari pangan, sandang, dan papan. Tanpa terpenuhnya tiga jenis kebutuhan ini manusia tak akan bisa hidup dengan baik.

Menurut al-Syathibi, rumusan kebutuhan manusia dalam Islam terdiri dari tiga jenjang, dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat:[2]

1) Dharuriyat(Primer)

Kebutuhan dharuriyat ialah tingkat kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terancam keselamatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.[3]Kebuthan dharuriyat mencakup:

a. Agama (din)

b. Kehidupan (nafs)

c. Pendidikan (‘aql)

d. Keturunan (nasl), dan

e. Harta (mal)

Untuk memelihara lima pokok inilah syariat Islam diturunkan. Setiap ayat hukum bila diteliti akan ditemukan alasan pembentukannya yang tidak lain adalah untuk memelihara lima pokok yang di atas. Misalnya, firman Allah dalam mewajibkan Qisas:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179).

Dan firman-Nya dalam mewajibkan qishas:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim.” (Al-Baqarah: 193).

Dari ayat pertama diketahui mengapa disyariatkan qisash, karena dengan itu ancaman terhadap kehidupan manusia dapat dihilangkan. Sedangkan pada ayat kedua, tujuan disyariatkannya perang adalah untuk melancarkan jalan dakwah ketika terjadi gangguan dan mengajak manusia untuk menyembah Allah.

Tujuan yang bersifat dharuri merupakan tujuan utama dalam pembinaan hukum yang mutlak harus dicapai. Oleh karena itu suruhan-suruhan syara’ dalam hal ini bersifat mutlak dan pasti, serta hukum syara’ yang berlatar belakang pemenuhan kebutuhandharuri adalah “wajib” (menurut jumhur ulama) atau “fhardu” (menurut ulama Hanafiah). Sebaliknya, larangan Allah berkaitan dengan dharuriini bersifat tegas dan mutlak. Hukum yang ditimbulkannya termasuk haram dzati. Untuk mendukung pencapaian dari tujuandharuri ini, syara’ menetapkan hukum-hukum pelengkap yang terurai dalam kitab-kitab fiqh.[4]

Lima kebutuhan dharuriyat (esensial) yang mencakup din, nafs, ‘aql, nasl, danmal merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Bila satu jenis yang sengaja diabaikan, akan menimbulkan ketimpangan dalam hidup manusia. Manusia hanya dapat melangsungkan hidupnya dengan baik jika kelima macam kebutuhan itu terpenuhi dengan baik pula. Inilah kiranya bentuk keseimbangan kebutuhan hidup dan kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

2) Hajiyat(Sekunder)

Kebutuhan hajiyat ialah kebutuhan sekunder. Apabila kebutuhan tersebut tidak terwujudkan, tidak akan mengancam keselamatannya, namun akan mengalami kesulitan. Syari’at Islam menghilangkan kesulitan itu. Adanya hukum rukhsah (keinginan) adalah sebagai contoh dari kepedulian Syari’at Islam terhadap kebutuhan ini.

Hal yang disuruh syara’ melakukannya untuk melaksanakan kewajiban syara’ secara baik. Hal ini disebut muqaddimah wajib. Umpamanya mendirikan sekolah dalam hubungannya dengan menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitas akal. Mendirikan sekolah memang perlu, namun seandainya sekolah tidak didirikan tidak bearti tidak akan tercapai upaya mendapatkan ilmu, karena menuntut ilmu itu dapat dilaksanakan di luar sekolah. Kebutuhan akan sekolah itu berada pada tingkat hajiyat. [5]

Dalam lapangan ibadat, Islam mensyari’atkan beberapa hukumrukhsah(keringanan) apabila mendapatkan kesulitan dalam menjalanjakan perintah-perintah Allah. Misalnya, ia membolehkan tidak puasa apabila dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari yang lain. Dan demikian halnya orang yang sedang sakit.

Dalam lapangan muamalah, disyariatkan banyak macam kontrak (akad), serta macam-macam jual beli, sewa menyewa, syirkah (perseroan) dan mudharabah(berniaga dengan modal orang lain dengan perjanjian laba). Dalam lapangan ‘uqubat (sanksi hukum), Islam mensyariatkan hukum diyat (denda) bagi pembunuhan tidak disengaja, dan menangguhkan hukuman potong tangan atas seorang pencuri karena terdesak menyelamatkannya nyawanya dari kelaparan.

Suatu kesempitan menimbulkan keringanan dalam syariat Islam adalah ditarik dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an juga. Misalnya dalam firman Allah SWT:

…مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ…

Artinya: “Dan Dia (Allah) tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Maidah: 6).

Pada dasarnya jenjang hajiyat ini merupakan pelengkap yang mengokohkan, menguatkan, dan melindungi jenjang dharuriyat.

3) Tahsiniyat,

Kebutuhan tahsiniyat ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah satu dari lima pokok di atas dan tidak pula menimbulkan kesulitan. Tingkat kebutuhan ini berupa kebutuhan pelengkap, seperti dikemukakan al-Syatibi, hal-hal yang merupakan kepatutan menurut adat istiadat, menghindarkan hal-hal yang tidak enak dipandang mata, dan berhias dengan keindahan yang sesuai dengan tuntutan norma dan akhlak.[6]

Jenjang ini merupakan penambahan bentuk kesenangan dan keindahan dharuriyatdan hajiyat.

Pembelian merupakan bagian dari keseluruhan perbuatan manusia, yang dilakukan untuk memenuhi kebutahan jasmani (hajatu al-udhawiyah) dan naluri(gharizah) baik berupa sandang, papan, dengan segala kelengkapannya, pangan, sarana transportasi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Semuanya adalah kebutuhan yang telah menjadi potensi kehidupan yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.

Dalam pemasaran, istilah kebutuhan (need) bearti hasrat untuk memenuhi kebutuhan, keinginan (want) adalah hasrat terhadap pemuas spesifik untuk terpenuhinya kebutuhan itu. Misalnya, dalam ungkapan: “butuh makan, ingin soto ayam”. Kebutuhan bersifat terbatas pemenuhannya, sedangkan keinginan tidak terbatas.

Dalam Islam, ada kebijakan yang dinamakan politik ekonomi Islam. Politik ekonomi Islam adalah jaminan tercapainya pemenuhan semua kebutuhan primer (basic needs) tiap orang secara menyeluruh, berikut kemungkinan tiap orang untuk memenuhi kebutuh-kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kadar kesanggupannya, sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup (life style) tertentu. Islam memandang tiap orang secara pribadi, bukan secara kolektif sebagai komunitas yang hidup dalam sebuah negara. Pertama kali, Islam memandang tiap orang sebagai manusia yang harus dipenuhi semua kebutuhan primernya secara menyeluruh. Baru, berikutnya, Islam memandangnya dengan kapasitas pribadinya untuk memenuhi kebutuhan-kebuthan sekunder dan tersiernya sesuai dengan kadar kemampuannya.

Islam telah menjamin terpenuhinya hak hidup secara pribadi serta memberikan kesempatan kepada tiap orang tersebut untuk memperoleh kemakmuran hidupnya. Sementara pada saat yang sama, Islam telah membatasi perolehan harta orang tersebut, yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan primer serta kebutuhan sekunder dan tersiernya dengan ketentuan yang khas, termasuk yang menjadikan interaksi orang tersebut sebagai interaksi yang mengikuti gaya hidup yang khas pula. Karenanya, Islam mengharamkan tiap Muslim untuk memproduksi dan mengkonsumsi minuman keras.

B. Keinginan

Keinginan yaitu kebutuhan yang dapat dipenuhi, dan kebutuhan-kebutuhan yang efektif. Yang artinya: “Dari Ibn Abbasra. Berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Apabila seorang anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memuaskan mulutnya kecuali tanah (kematian), dan semoga Allah saw memberi ampunan bagi orang yang bertaubat.”.

Hadits ini menerangkan sifat dan tabiat manusia, selalu memiliki keinginan yang tidak terbatas, terlepas apakah berupa keinginan positif atau negatif. Dengan dibekali keinginan inilah manusia memiliki potensi untuk memakmurkan bumu, di samping juga memiliki potensi untuk merusaknya.

Salah satu karakteristik keinginan manusia sifatnya tidak terbatas, seperti gambaran hadits di atas, jika manusia telah mendapatkan dua lembah emas niscaya masih mencari lembah emas yang ketiga dan seterusnya. Kenyataannya bahwa sifat keinginan manusia tidak terbatas merupakan fitrah dan tabiat alami setiap manusia yang diakui dalam Al-Qur’an. Memang, keinginan manusia juga menjadikan mereka mempunyai potensi untuk berbuat kerusakan, namun semua itu merupakan bagian dari sunnahtullah yang ada di muka bumi; ada siang dan ada malam, ada hitam dan ada putih, ada yang baik dan ada yang buruk, begitu seterusnya. Semua ini karena kehidupan di dunia diciptakan untuk menguji manusia, dan layaknya ujian hasilnya tidak ada yang seragam.

Dalam ilmu ekonomi sendiri, masalah keinginan manusia merupakan tema sentral dalam susunan paradigmanya. Disebutkan dalam pengertian ilmu ekonomi; sebagai ilmu yang membahas prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang terbatas terhadap sumberdaya yang terbatas.

Keinginan sama juga dengan harapan. Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan, berarti manusia mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.

Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang itu, seperti peribahasa ”Si pungguk merindukan bulan”.

Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rafiq mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah kuliah, Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana mungkin Rafiq memperoleh nilai A.

Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendir, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa, Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulkan harapan.

Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang di inginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.

Antara harapan (keinginan) dan cita-cita terdapat persamaan, yaitu :

· Keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud

· Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang mengingikan hal yang lebih baik atua meningkat.

Selanjutnya, harapan manusia berada di akal sesuai dengan keahliannya atau kepangkatannya atau profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakat atau kepandainya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

Jika seseorang Muslim yang yakin akan Allah, ketika ia menginginkan sesuatu, maka ia akan berdoa pada Allah. Dalam Al-Quran banyak sekali kata-kata do'a dalam pengertian yang bebeda-beda:

Pertama, do'a dalam pengertian "Ibadah." Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِين

Artinya: "Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula(Yunus: 106).

Maksud kata berdo'a di atas adalah ber-"ibadah" (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yakni sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.

Kedua, doa dalam pengertian "Istighatsah" (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.

…وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ…

Artinya: "Dan berdo'alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu." (Al-Baqarah: 23).

Maksud kata ber-"doa" (wad'u) dalam ayat ini, adalah "Istighatsah" (meminta bantuan, atau pertolongan). Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.

Ketiga,Doa dalam pengertian "permintaan" atau "permohonan." Seperti dalam Al-Quran surah Al-Mu'min ayat 60 dibawah ini.

…ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ…

Artinya: "Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu." (Al-Mukmin: 60).

Maksud kata "Doa" (ud'ûnî) dalam ayat ini adalah, "memohon" atau "meminta." Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.

Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "Doa" adalah ucapan permohonan (keinginan) dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya.

C. Mengenal Manusia

Kita sering melihat perbedaan karakteristik manusia dalam berpikir, berkata, dan bertindak. Karakter setiap orang pasti ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. ini merupakan fenomena alamiah yang tidak pernah habis dibahas manusia. Karakteristik inilah yang kelak menentukan baik atau buruknya nilai perilaku seseorang menurut ukuran agama dan budaya masyarakat. Seseorang akan dikatakan baik bila perilakunya sesuai dengan ajaran agama, dan sebaliknya tidak sesuai dengan ajaran agama.

Proses dari berpikir hingga bertindak sesuai dengan ajaran agama tentu erat kaitannya dengan kendali unsur-unsur mansuia yang dimiliki seseorang. Dalam hal ini, sangat menarik apa yang diungkapkan al-Ghazali dalam karya besarnya Ihya Ulumuddinmengenai unsur-unsur manusia yang dimiliki seseorang. Menurutnya, manusia terdiri dari empat unsur, yakni ruh, nafs, ‘aql, dan qalb.Setiap unsur tersebut memiliki aktivitas yang berbeda, tetapi satu sama lain saling berhubungan dalam membentuk karakteristik seseorang. Baik atau buruknya karakteristik seseorang rupanya tergantung oada tingkat kesehatan ‘aql, qalb, dan nafs-nya. Tingkat kesehatan ‘aql, qalb dan nafstersebut tidak muncul dengan sendirinya. Mereka harus dilatih terlebih dahulu. Keterpadua empat unsur manusia yang terlatih tersebut kelak mendorong kemajuan tingkat ke-Islaman, keamalan, dan ketakwaan seseorang.

Pada dasarnya, ‘aql merupakan rasio dan qalb merupakan rasa. ‘Aqlatau akal adalah alat berpikir manusia. Manusia perlu berpikir dengan ‘aqlberdasarkan standar rasio tertentu agar ia rasional. Manusia menghitung, mengukur, menalar, menganalisis, dan menafsirkan sesuatu dengan akalnya.

Dengan demikian, apa yang diinginkan akal ialah segala sesuatunya terukur, terhitung dan teranalisis dengan baik. Dalam Islam, keakuratan seperti ini sama dengan adil, karena adil menempatkan sesuatu pada tempat semestinya dan bertindak sesuai dengan tindakan yang seharusnya. Adil dapat pula diartikan memberikan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya dia. Adil dapat pula diartikan memberikan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya dia berikan baik itu menurut ukurannya atau jumlahnya. Atau menerima, sesuatu sesuai dengan yang seharusnya dia terima baik dalam ukuran maupun jumlahnya. Menurut rasio, hemat itu adil karena hemat memungkinkan seseorang memenuhi pos-pos konsumsi lain yang dibutuhkan saat itu.

Ada satu unsur manusia lagi yang belum dibahas, yakni nafs. Nafs adalah jiwa manusia, dia berbeda dengan yang dimiliki hewan dan tumbuh-tumbuhan.









D. Fitrah Manusia Terhadap Agama

Keinginan kepada hidup beragama adalah salah satu dari sifat-sifat asli pada manusia. Itu adalah naluri, fitrahnya dan kecenderungannya yang telah menjadi pembawaannya, dan bukan sesuatu yang dibuat-buat atau sesuatu keinginan yang datang kemudian, lantaran pengaruhnya dari luar. Sama halnya dengan keinginannya kepada makan dan minum, berketurunan, memiliki harta benda berkuasa dan bergaul dengan sesama manusia. Oleh sebab itu, pada hakikatnya manusia merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak, maka akal bukan satu-satunya alat kendali manusia. Karena di samping itu manusia masih memiliki qalbu (qalb) yang potensinya tak kalah penting dengan akal (‘aql). Apalah jadinya jika manusia hidup tanpa qalbu (qalb). Mereka akan selalu bersikap logis tanpa sadis. Ego mereka sangat mendominasi masing-masing, sehingga satu sama lain tidak ada yang pernah mengalah. Qalbu merupakan kendali rasa manusia. Qalbu yang mengkerut menyebabkan manusia buta lingkungan, tetapi qalbu yang mengembang membuat manusia dekat dengan Tuhan dan manusia-manusia lainnya.

E. Iman dan Perilaku

Perasaan manusia terhadap Tuhan erat kaitannya dengan keimanan dan ketakwaan. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Suci. Dia hanya bisa didekati oleh makhluk-makhluk-Nya yang suci. Proses penyucian ini mengharuskan manusia tidak hanya berbuat baik pada Tuhan, tetapi harus pula berbuat baik kepada manusia. Misalnya, agar keimanannya sempurna, manusia tidak sekedar beribadah syakhsiah (individual), seperti shalat, puasa dan haji supaya dikasihi dan disayang Tuhan., tetapi harus pula beribadahijtima’iyah(sosial), seperti zakat, sedekah dan berbuat baik terhadap orang lain. Oleh karena itu, tidak beriman seseorang manakala dia shalat, tetapi tidak zakat, atau zakat tetapi tidak shalat. Dua-duanya sama penting. Dalam rumusan ini dapat disimpulkan bahwa orang dekat dengan Tuhan berimplikasi pada pendekatannya dengan manusia, begitu pula sebaliknya.

Dalam kaitan ini, pada konsep keimanan dikenal pengertian ihsan. Ihsan terdiri atas dua macam, yakni ihsan terhadap Tuhan dan Ihsan terhadap manusia.

Tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang memengaruhi unsur aql, naff, danqalb-nya. Bila keimanan dan ketakwaan positif, maka ketiga unsur manusia tersebut positif pula. Keadaan inilah yang mendorong tuan A berhemat dan pantang terhadap hasrat untuk bermewah-mewahan. Indikator ‘aql positif adalah selalu berpikir sehat, nafspositif selalu membawa dirinya pada upaya menjadi manusia sempurna, dan qalb positif selalu ingin dekat dengan Tuhan dan berbuat baik terhadap sesama manusia.


BAB III
PENUTUP

Kebutuhan yaitu keinginan mutlak yang diperlukan manusia bagi kehidupan dan tanpanya manusia tidak dapat hidup, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.

Kebutuhan manusia terdiri atas: (1) Dharuriyat yang mencakup: Agama (din),kehidupan (nafs), pendidikan (‘aql), keturunan (nasl), dan harta (mal). (2) Hajiyat,jenjang ini merupakan pelengkap yang mengokohkan, menguatkan, dan melindungi jenjang dharuriyat.(3) Tahsiniyat, jenjang ini merupakan penambahan bentuk kesenangan dan keindahan dharuriyat dan hajiyat.

Keinginan sama juga dengan harapan. Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan, berarti manusia mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing.

Karakter setiap orang pasti ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. ini merupakan fenomena alamiah yang tidak pernah habis dibahas manusia. Karakteristik inilah yang kelak menentukan baik atau buruknya nilai perilaku seseorang menurut ukuran agama dan budaya masyarakat. Seseorang akan dikatakan baik bila perilakunya sesuai dengan ajaran agama, dan sebaliknya tidak sesuai dengan ajaran agama.

Keinginan kepada hidup beragama adalah salah satu dari sifat-sifat asli pada manusia. Itu adalah naluri, fitrahnya dan kecenderungannya yang telah menjadi pembawaannya, dan bukan sesuatu yang dibuat-buat atau sesuatu keinginan yang datang kemudian, lantaran pengaruhnya dari luar.

Perasaan manusia terhadap Tuhan erat kaitannya dengan keimanan dan ketakwaan. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Suci. Dia hanya bisa didekati oleh makhluk-makhluk-Nya yang suci. Proses penyucian ini mengharuskan manusia tidak hanya berbuat baik pada Tuhan, tetapi harus pula berbuat baik kepada manusia.





DAFTAR PUSTAKA

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh II, Jakarta: Kencana Prenada Group, 2008.

Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Satria Effendi dan M. Zein, Ushul Fiqh, Edisi 1, Cet-2, Jakarta: 2005.

Tom Gorman, The Complete Ideal’s Guides: Economics, Edisi Pertama, Cet. Ke-1, Jakarta: Prenada, 2009.

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Stats

Beauty

Labels

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

3/Navy/col-right

new

3/All India Jobs/post-list

Admit Cards

10/All India Jobs/col-right

Tips SEO

3/Navy/col-left